it's better for u not to expect too much, then...
Wednesday, June 25, 2008
Tuesday, May 6, 2008
Fela dan Dewi Persik

Kakak sepupu saya sedang gundah. Fela, anak gadisnya yang masih berusia 3 tahun sudah tak betah berada di rumah. Memang, setahun belakangan gadis kecil ini terus merengek minta sekolah kepada mamanya. “Aku tuh bosen loh ma kalo di rumah terus,” begitu rayunya.
Untuk anak seusianya, Fela tergolong cerdas. Sudah berapa puluh lagu yang ia hafal. Meski dia tak pernah tahu apa maksud dari liriknya, sebab hampir semuanya lagu orang dewasa. Diajari Bahasa Inggris pun tak susah. Sebelas angka dalam Bahasa Inggris sudah dihafalnya walaupun diucapkan dengan gaya cadel. Mengaji pun ia bisa. “Sudah sampe ka, ik!” katanya pada saya.
Bulan Juli tahun ini ia akan masuk sekolah. Belum TK, masih Playgroup. Kakak saya ingin agar anaknya beradaptasi dengan teman sebayanya terlebih dulu sebelum ia benar-benar merasakan sekolah.
Begitu banyak pilihan yang datang pada kakak sepupu saya. Maklum, perkembangan lembaga pendidikan berjalan cukup pesat di kota kecil seperti Magetan. Namun keinginan kakak saya tak pernah jauh dari satu hal: anaknya harus masuk sekolah Islam.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Selain pengetahuan ke-Islaman kedua orang tua yang pas-pasan, kakak saya ingin memastikan bahwa anaknya berada di tangan orang-orang yang dipercaya mampu memberikan ilmu agama, bahkan melebihi apa yang ia tahu. Apalagi, kedua orang tua Fela adalah orang sibuk. Mamanya, kakak sepupu saya, adalah sekretaris pribadi Bupati Magetan yang sedang menjabat saat ini. Sementara ayahnya adalah seorang mantri (begitu mereka mengistilahkan) Bank milik pemerintah. Kondisi pekerjaan mengharuskan mereka berangkat pagi dan pulang sore setiap harinya. Sementara saat mereka tak di rumah, Fela diurus oleh pembantu dengan pendidikan terakhir tamatan SMP.
Kesibukan kedua orang tua memang tak dapat menjadi pembenaran bahwa pendidikan anak menjadi urusan orang lain. Namun terkadang jika kondisi memaksa, penting untuk mencari orang-orang di luar keluarga dengan bekal pendidikan memadai sebagai supplier ilmu, selain yang diberikan oleh keluarga. Dan karena itulah kakak saya memilih memasukkan anaknya di salah satu sekolah Islam di kota saya. Bukan hanya agar Fela memiliki ilmu agama yang cukup, jauh melebihi itu, ia ingin agar Fela memiliki akhlakul karimah, akhlak yang mulia. Dan saya salah satu orang yang sangat mendukung keinginan kakak saya. Sebab sedikit banyak saya termasuk golongan penganut teori tabula rasa, meski yakin bahwa tetap ada campur tangan Tuhan di sana.
Kakak saya mungkin salah satu diantara sekian banyak orang yang percaya bahwa akhlak adalah dasar dari segala sesuatu. Akhlak bisa dibentuk dari kondisi lingkungan, termasuk budaya dan agama. Meski keberadaanya tak dapat diukur, namun saya yakin, semua orang memiliki standar yang sama tentang mana yang baik dan mana yang bukan. Semua orang dari suku apapun dan dari agama manapun.
Maka saya heran kepada media massa dan sekian banyak orang yang masih mempertanyakan mengapa para pimpinan daerah itu mencekal goyangan erotis Dewi Persik. Dengan dalih, masih banyak masalah besar yang harus mereka selesaikan seperti kemiskinan serta korupsi yang makin merajalela, tapi justru itu adalah hiburan bagi masyarakat kecil.
Oya?
Benar, goyangan para artis dangdut tersebut tidak akan menimbulkan kemiskinan. Juga bukan tindakan kriminal seperti korupsi. Namun tidakkah mereka sadar, bahwa goyangan yang tersaji di depan umum itu adalah layaknya virus yang langsung menyerang akhlak para penontonnya. Dan tidakkah mereka sadar, bahwa tindakan korupsi yang menjadi pemicu meningkatnya tingkat kemiskinan di Indonesia adalah karena para pemimpin itu tak memiliki akhlak mulia.
Maka bayangkan bagaimana Indonesia ketika akhlak manusia-manusianya telah terkena virus.
Saturday, February 23, 2008
Pak Tua
Tak lebih dari satu meter meninggalkan tempat saya duduk, suara anak kecil memanggilnya. Membawa selembar dua puluh ribuan di tangan kanannya, seorang lelaki kecil berlari mendekat pada pak tua. Kulitnya hitam. Badannya kecil. Umurnya mungkin baru belasan tahun. Pakaiannya cukup bersih dengan sepasang sepatu hitam putih sebagai alasnya. “Tukar uang, Pak,” katanya.
Menahan rasa terkejut sekaligus keinginan untuk tertawa, saya mengamati kedua orang yang memiliki wilayah kerja yang sama tersebut. Setelah menerima selembar uang dari si bocah, dengan santainya si bapak meletakkan tongkat yang membantunya berjalan, dan berdiri tegak dengan kedua kakinya. Tidak tampak ada keganjilan dalam kaki kirinya. Kaki yang setahu saya memerlukan tongkat besi hitam untuk menjaganya tetap tegak. Sementara kedua tangannya kini sibuk mencari pecahan uang kecil untuk si bocah di dalam kantung pada ikat pingganggnya. Usai transaksi, bapak tua meraih tongkat hitamnya dan kembali berjalan seperti saat dia mendekati saya tadi.
Jaman sekarang. Orang semakin kreatif saja mencari cara mendapatkan uang. Maklum uang menjadi segalanya saat ini. Saat semua hal sekalipun dalam hidup membutuhkan uang.Lihat saja. Kalau dulu setiap kali naik kendaraan umum kita hanya akan menemui penjual buah, air mineral, serta buku-buku primbon, kini variasinya semakin bertambah. Apalagi dalam kereta ekonomi seperti yang saya tumpangi. Mulai dari penjual makanan dan minuman “konvensional” hingga yang siap saji, seperti mie instan cup dan kopi instan. Hanya bermodal satu termos berisi air panas dan puluhan makanan dan minuman instan dalam sachet, untung pun diraih. Voucher isi ulang “berjalan” pun ada. Sehingga penumpang tak perlu khawatir jika kehabisan pulsa telepon seluler. Ada pula jasa cleaning service yang akan membersihkan lantai sepanjang gerbong. Tak gratis tentunya. Bayarannya, cukup memasukkan uang kecil seikhlasnya di kantung atau gelas bekas yang telah tersedia. Rejeki memang selalu datang dari cara-cara ya tidak pernah diketahui sebelumnya.
Sandainya saja pak tua memanfaatkan tubuhnya yang masih kekar, mungkin ia akan mendapatkan sesuatu “lebih” tanpa perlu membohongi dirinya sendiri.
Wednesday, September 26, 2007
Kriya logam, seni yang kurang diminati
SURABAYA-Tidak banyak orang tahu tentang kriya logam. Sebuah bentuk karya seni yang menggunakan logam seperti perak, tembaga, ataupun kuningan sebagai obyeknya.
Indah Chrrysanti Angge, seniman kriya logam lulusan Institut Seni Indonesia mencoba memperkenalkan sebuah bentuk lain dari kriya seni yang belum dikenal sebagian masyarakat tersebut. Melalui pameran tunggalnya yang digelar di Gallery House of Sampoerna sejak akhir bulan lalu.
“Peminat logam kurang banyak,”. Alasan tersebut dilontarkan perempuan yang akrab dengan sapaan Santi tersebut kepada Duta kemarin (26/9), menanggapi keberadaan karya seni dari logam yang selama ini masih kurang diketahui masyarakat luas.
Kurangnya peminat terhadap salah satu bentuk seni terapan ini dikatakan Santi sebab teknik pengerjaannya seperti tukang. Untuk menghasilkan sebuah kriya logam membutuhkan proses mematah dan mematri laiknya seorang tukang besi. Itu sebabnya jenis kriya ini kurang diminati, “Apalagi perempuan,” tambahnya.
Di samping itu, menurut Santi, orang masih awam dengan istilah ‘kriya’, yang berarti dikerjakan dengan tangan.Selama ini, sebagian orang masih menganggap kriya logam tidak lebih dari sebuah kerajinan tangan, bukan sebuah karya seni. Padahal, menurut seniman yang juga bekerja sebagai tenaga pengajar Jurusan Senirupa Universitas Negeri Surabaya ini, karya seni berbahan dasar logam sudah ada sejak jaman kerajaan. “Keris, itu juga termasuk kriya logam adiluhung. Trus di Jogja ada namanya torak jogja,” ungkapnya.
Kriya logam sendiri merupakan salah satu bentuk applied art atau seni terapan. Sebagai sebuah karya seni terap, kriya logam harus berinteraksi dengan benda lain yang hadir dalam sebuah penataan ruang. Oleh sebab itulah Santi memajang karyanya dalam bentuk penataan ruangan layaknya rumah tinggal.
Ditambahkan Santi, dalam menciptakan sebuah karya seni dari logam, banyak hal yang harus dipahami. Sifat logam misalnya. Penguasaan sifat logam sebagai bahan dasar beserta pengolahannya mutlak dimiliki oleh seniman logam. Selain itu, kontrol terhadap emosi juga harus dilakukan ketika seorang seniman sedang mengukir sebuah logam. “Kalau emosi naik, bisa patah logamnya,” katanya. Namun, dirinya mengaku, meski memiliki sifat keras, logam termasuk bahan yang mudah dalam proses pembentukannya
Dalam pameran tunggalnya yang bertema Sekar Kedhaton ini Santi banyak mengambil inspirasi dari bunga melati. Logam yang dipilihnya adalah kuningan dan tembaga. Seluruh ukiran logam dalam karyanya, seperti topeng, panel dua dimensi, sampai dinner set berhiaskan motif bunga melati. “Karena saya merasa bunga melati itu kan bunga bangsa kemudian diekspresikan dalam bentuk karya seni,” ungkap perempuan asli Malang tersebut. (aje)
