Ada seorang bule yang minta seorang pribumi untuk diajak makan makanan khas Indonesia. Lalu si pribumi mengajaknya untuk makan es kelapa muda.
Bule: ini makanan apa?
Pribumi: ini namanya kelapa muda mister
Bule: wah yang muda saja enak. Apalagi yang tua.
Lalu si pribumi mengajaknya lagi ke warung tegal yang menjual sayur lodeh nangka.
Bule: ini makanan namanya apa?
Pribumi: ini namanya sayur nangka mister. Enak mister?
Bule: wah wah.. ini makanan yang muda saja enak, apalagi yang tua.
Lalu si bule minta nambah sayur lodeh rebung yang juga tersaji di meja.
Bule: kalo ini namanya apa?
Pribumi: itu namanya sayur rebung.
Bule: apa itu rebung?
Pribumi: rebung itu bambu muda mister.
Bule: bamboo muda? Waaah yang muda saja enak. Apalagi yang tua
Pribumi: ………………..
Garing ya?
Biarin.
Biar garing, saya selalu terbahak mendengar guyonan yang sering sekali diceritakan Bapak ini. Akan saya adopsi, lalu saya ceritakan ke Yasmin, mbesuk kalo dia sudah paham candaan. Akan saya ceritakan beruuulang-ulang, biar dia ingat pernah diceritai joke yang teramat garing oleh emaknya. Hingga dewasa. Jadi dia juga punya cerita tentang emaknya yang garing ini.
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Showing posts with label Keluarga. Show all posts
Wednesday, December 14, 2011
Friday, March 20, 2009
7 Unimportant Things I Want Most
1. Mencoba berbagai extreme games.
Bohong banget kalau saya bilang I’m freak of extreme games. Sebab belum banyak permainan ekstrim yang pernah saya coba. Jadi masih terlalu dini untuk mengatakan saya pecinta permainan gila. Coba saya sebut satu persatu sejauh ingatan: rafting, flying fox, Tornado di Dufan (saya mencoba semua permainan di Dufan dan ini satu-satunya yang bikin saya berteriak), walking on the rope (ah saya lupa sebenarnya namanya apa. Yang jelas saya berjalan diatas seutas tali untuk menyeberangi tebing dan ketika saya sampai di tengah, tali itu dibalik. Whoaaa.. what an interesting game ever!), kora-kora manual dengan pengaman manual di pasar malem sekaten, turun tebing. Selebihnya saya lupa. Levelnya memang masih rendah. Tapi saya sangat bersemangat menjajal permainan adrenalin macam ini. Mengukur seberapa jauh saya bisa mengalahkan rasa takut, kecuali bertatap muka dengan hantu dan film hantu.

2. Berhenti ngomongin orang
Sebuah ancaman mendarat dari seorang teman yang ingin menjadi partner hidup saya kelak.
“Tar kalo nikah, awas aja kalo kamu ngomongin keburukan orang lain,”.
Tidak jelas memang apa ancaman sesungguhnya. Tapi saya mengangguk saja, tanda setuju. Toh saya sendiri telah merasakan betapa tidak enaknya membuka aib orang lain. Beberapa waktu terakhir, aib si A atau si B atau si C sering mampir di telinga saya. Padahal si A,B,C itu notabene adalah teman-teman saya sendiri. Yang tiap hari ketemu. Tiap hari bercanda. Tiap hari duduk bersama. Saya sering berusaha netral. Tak mengompor-kompori, juga tak terlalu membela orang yang menjadi sasaran pembicaraan. Tapi tak jarang pula usaha saya itu gagal. Akibatnya sedikit demi sedikit saya mulai membicarakan aib orang. Padahal hati ini capek juga akhirnya. Sama sekali tidak ada untungnya. Malah bikin dosa makin numpuk saja. Sumpah, saya ingin berhenti!
3. Olahraga
Keinginan sudah ada. Niat juga sudah dilafalkan dari dulu. Tapi kemauan yang sulit diajak kompromi. Selalu ada saja alasan untuk menunda keinginan saya satu ini. Biar saya sebut satu per satu: tidak bisa bangun pagi untuk jogging, tidak punya baju olahraga yang oke, tidak ada temannya, pulang kerja sudah sore jadi capek kalau mau ikut senam sore, di tempat fitness yang ada cowo semua, kolam renang khusus wanita jauh lokasinya, belum sempet beli shuttlecock meski raket sudah disediakan sama anaknya ibu kos, de el el. Banyak banget kan? Ah, besok pagi lah, saya mulai berolahraga!
4. Kursus menjahit
Biar mereka mengatakan saya tomboy, namun saya memiliki jiwa keibuan yang sangat tinggi. Buktinya saya ingin sekali mengeksekusi keinginan saya ini dalam waktu dekat. Tujuannya pun sungguh mulia: biar bisa mengirit pengeluaran beli baju. Khususnya baju anak saya kelak. Jaman sekarang ini, pakaian anak jauh lebih mahal dibading pakaian orang dewasa. Selain itu, kalau saya bisa menjahit, setidaknya masih bisa berguna hingga hari tua kelak. See… ? Cita-cita saya sungguh mulia. *sigh*
5. Menikmati sunrise dari puncak gunung
Belum pernah sekalipun saya merasakannya. Suatu ketika Kurus pernah mengajak saya camping “suatu saat nanti”. Sayangnya, sepertinya ‘suatu saat’ yang dikatakan kurus tak kunjung datang. Makanya saya belum berangkat sampai sekarang. Sebenarnya rada keder juga. Membayangkan hal-hal gaib yang mungkin terjadi di puncak gunung sana. Konon kabarnya, jin itu punya dua tempat tinggal di dunia ini, yakni lautan dan gunung. Kabar itu diperjelas lagi oleh sutradara film-film horror yang seringkali mengambil setting di hutan pegunungan. Tapi membayangkan betapa cantiknya matahari pagi dari atas sana, rasa takut saya harus dipendam lebih dulu. Bukankah obat rasa takut itu adalah berhadapan dengan rasa takut itu sendiri?
6. Makan kepiting bumbu asam pedas.
Jangan tertawa kalau saya bilang: seumur hidup saya baru makan kepiting satu kali. Bulan Juli tahun lalu, di Pantai Depok. Saat rapat persiapan Ramadhan 1429H bersama rekan-rekan kantor. Sensasi pertama: ternyata daging kepiting benar benar benar lezat. Meski harus belepotan untuk memakannya. Saya menyesal dulu tak mengambil jatah banyak. Masih malu-malu. Sekarang mau makan lagi musti pikir-pikir. Di kota harus merogoh kantong minimal 23 ribu untuk satu porsi kepiting. Aih, itu kan jatah makan anak kos (baca: saya) sehari?
7. Jadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan
Sounds classic. Tapi, I hate to spend my time just for working. Untungnya saya kerja di NGO yang menghimpun zakat dari para aghniya untuk kesejahteraan kaum dhuafa. Setidaknya saya tidak membanting tulang untuk memperbesar perut para penguasa. Seandainya saya harus berhenti dari pekerjaan sekarang ini pun, mungkin saya akan mencari pekerjaan lain yang masih ada hubungannya dengan kemanusiaan. Hitung-hitung ngumpulin tiket tembusan ke salah satu pintu sorga. Tapi kalau dipikir ulang, waktu yang saya habiskan untuk bekerja jauh lebih besar dibanding waktu untuk keluarga. Jika saya sudah berkeluarga nantinya. Delapan jam di kantor, delapan jam berikutnya untuk istirahat, dan delapan jam lain untuk keluarga. Padahal delapan yang terakhir masih terbagi untuk memasak, membersihkan rumah, belanja, de el el. Sementara saya punya kewajiban mengajari anak mengaji, mendidik mereka untuk shalat lima waktu, so what do I live for? Kalau bukan untuk itu? (:p kaya saya telaten aja...!)
Jadi mulai sekarang saya harus memikirkan nasib keluarga saya kelak tanpa meninggalkan potensi saya untuk menghasilkan uang. Menjadi penulis mungkin. Wow.. I do really want to be a professional writer. Seperti Helvy Tiana Rosa. Beramal melalui kata-kata. Bayangkan betapa mulianya profesi ini. Hanya dengan menulis, bisa mengubah sebuah peradaban. Menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk tetap berpegang teguh di jalan Allah. Tak akan terhitung koin amal mengucur di buku tabungan Bank Rokib yang selalu mendampingi tangan kanan kita ini. Dengan satu syarat tentunya: semuanya dalam rangka menyeru ke jalan Allah. Ya.. I’ll be there.
Bohong banget kalau saya bilang I’m freak of extreme games. Sebab belum banyak permainan ekstrim yang pernah saya coba. Jadi masih terlalu dini untuk mengatakan saya pecinta permainan gila. Coba saya sebut satu persatu sejauh ingatan: rafting, flying fox, Tornado di Dufan (saya mencoba semua permainan di Dufan dan ini satu-satunya yang bikin saya berteriak), walking on the rope (ah saya lupa sebenarnya namanya apa. Yang jelas saya berjalan diatas seutas tali untuk menyeberangi tebing dan ketika saya sampai di tengah, tali itu dibalik. Whoaaa.. what an interesting game ever!), kora-kora manual dengan pengaman manual di pasar malem sekaten, turun tebing. Selebihnya saya lupa. Levelnya memang masih rendah. Tapi saya sangat bersemangat menjajal permainan adrenalin macam ini. Mengukur seberapa jauh saya bisa mengalahkan rasa takut, kecuali bertatap muka dengan hantu dan film hantu.
2. Berhenti ngomongin orang
Sebuah ancaman mendarat dari seorang teman yang ingin menjadi partner hidup saya kelak.
“Tar kalo nikah, awas aja kalo kamu ngomongin keburukan orang lain,”.
Tidak jelas memang apa ancaman sesungguhnya. Tapi saya mengangguk saja, tanda setuju. Toh saya sendiri telah merasakan betapa tidak enaknya membuka aib orang lain. Beberapa waktu terakhir, aib si A atau si B atau si C sering mampir di telinga saya. Padahal si A,B,C itu notabene adalah teman-teman saya sendiri. Yang tiap hari ketemu. Tiap hari bercanda. Tiap hari duduk bersama. Saya sering berusaha netral. Tak mengompor-kompori, juga tak terlalu membela orang yang menjadi sasaran pembicaraan. Tapi tak jarang pula usaha saya itu gagal. Akibatnya sedikit demi sedikit saya mulai membicarakan aib orang. Padahal hati ini capek juga akhirnya. Sama sekali tidak ada untungnya. Malah bikin dosa makin numpuk saja. Sumpah, saya ingin berhenti!
3. Olahraga
Keinginan sudah ada. Niat juga sudah dilafalkan dari dulu. Tapi kemauan yang sulit diajak kompromi. Selalu ada saja alasan untuk menunda keinginan saya satu ini. Biar saya sebut satu per satu: tidak bisa bangun pagi untuk jogging, tidak punya baju olahraga yang oke, tidak ada temannya, pulang kerja sudah sore jadi capek kalau mau ikut senam sore, di tempat fitness yang ada cowo semua, kolam renang khusus wanita jauh lokasinya, belum sempet beli shuttlecock meski raket sudah disediakan sama anaknya ibu kos, de el el. Banyak banget kan? Ah, besok pagi lah, saya mulai berolahraga!
4. Kursus menjahit
Biar mereka mengatakan saya tomboy, namun saya memiliki jiwa keibuan yang sangat tinggi. Buktinya saya ingin sekali mengeksekusi keinginan saya ini dalam waktu dekat. Tujuannya pun sungguh mulia: biar bisa mengirit pengeluaran beli baju. Khususnya baju anak saya kelak. Jaman sekarang ini, pakaian anak jauh lebih mahal dibading pakaian orang dewasa. Selain itu, kalau saya bisa menjahit, setidaknya masih bisa berguna hingga hari tua kelak. See… ? Cita-cita saya sungguh mulia. *sigh*
5. Menikmati sunrise dari puncak gunung
Belum pernah sekalipun saya merasakannya. Suatu ketika Kurus pernah mengajak saya camping “suatu saat nanti”. Sayangnya, sepertinya ‘suatu saat’ yang dikatakan kurus tak kunjung datang. Makanya saya belum berangkat sampai sekarang. Sebenarnya rada keder juga. Membayangkan hal-hal gaib yang mungkin terjadi di puncak gunung sana. Konon kabarnya, jin itu punya dua tempat tinggal di dunia ini, yakni lautan dan gunung. Kabar itu diperjelas lagi oleh sutradara film-film horror yang seringkali mengambil setting di hutan pegunungan. Tapi membayangkan betapa cantiknya matahari pagi dari atas sana, rasa takut saya harus dipendam lebih dulu. Bukankah obat rasa takut itu adalah berhadapan dengan rasa takut itu sendiri?
6. Makan kepiting bumbu asam pedas.
Jangan tertawa kalau saya bilang: seumur hidup saya baru makan kepiting satu kali. Bulan Juli tahun lalu, di Pantai Depok. Saat rapat persiapan Ramadhan 1429H bersama rekan-rekan kantor. Sensasi pertama: ternyata daging kepiting benar benar benar lezat. Meski harus belepotan untuk memakannya. Saya menyesal dulu tak mengambil jatah banyak. Masih malu-malu. Sekarang mau makan lagi musti pikir-pikir. Di kota harus merogoh kantong minimal 23 ribu untuk satu porsi kepiting. Aih, itu kan jatah makan anak kos (baca: saya) sehari?
7. Jadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan
Sounds classic. Tapi, I hate to spend my time just for working. Untungnya saya kerja di NGO yang menghimpun zakat dari para aghniya untuk kesejahteraan kaum dhuafa. Setidaknya saya tidak membanting tulang untuk memperbesar perut para penguasa. Seandainya saya harus berhenti dari pekerjaan sekarang ini pun, mungkin saya akan mencari pekerjaan lain yang masih ada hubungannya dengan kemanusiaan. Hitung-hitung ngumpulin tiket tembusan ke salah satu pintu sorga. Tapi kalau dipikir ulang, waktu yang saya habiskan untuk bekerja jauh lebih besar dibanding waktu untuk keluarga. Jika saya sudah berkeluarga nantinya. Delapan jam di kantor, delapan jam berikutnya untuk istirahat, dan delapan jam lain untuk keluarga. Padahal delapan yang terakhir masih terbagi untuk memasak, membersihkan rumah, belanja, de el el. Sementara saya punya kewajiban mengajari anak mengaji, mendidik mereka untuk shalat lima waktu, so what do I live for? Kalau bukan untuk itu? (:p kaya saya telaten aja...!)
Jadi mulai sekarang saya harus memikirkan nasib keluarga saya kelak tanpa meninggalkan potensi saya untuk menghasilkan uang. Menjadi penulis mungkin. Wow.. I do really want to be a professional writer. Seperti Helvy Tiana Rosa. Beramal melalui kata-kata. Bayangkan betapa mulianya profesi ini. Hanya dengan menulis, bisa mengubah sebuah peradaban. Menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk tetap berpegang teguh di jalan Allah. Tak akan terhitung koin amal mengucur di buku tabungan Bank Rokib yang selalu mendampingi tangan kanan kita ini. Dengan satu syarat tentunya: semuanya dalam rangka menyeru ke jalan Allah. Ya.. I’ll be there.
Tuesday, May 6, 2008
Fela dan Dewi Persik

Kakak sepupu saya sedang gundah. Fela, anak gadisnya yang masih berusia 3 tahun sudah tak betah berada di rumah. Memang, setahun belakangan gadis kecil ini terus merengek minta sekolah kepada mamanya. “Aku tuh bosen loh ma kalo di rumah terus,” begitu rayunya.
Untuk anak seusianya, Fela tergolong cerdas. Sudah berapa puluh lagu yang ia hafal. Meski dia tak pernah tahu apa maksud dari liriknya, sebab hampir semuanya lagu orang dewasa. Diajari Bahasa Inggris pun tak susah. Sebelas angka dalam Bahasa Inggris sudah dihafalnya walaupun diucapkan dengan gaya cadel. Mengaji pun ia bisa. “Sudah sampe ka, ik!” katanya pada saya.
Bulan Juli tahun ini ia akan masuk sekolah. Belum TK, masih Playgroup. Kakak saya ingin agar anaknya beradaptasi dengan teman sebayanya terlebih dulu sebelum ia benar-benar merasakan sekolah.
Begitu banyak pilihan yang datang pada kakak sepupu saya. Maklum, perkembangan lembaga pendidikan berjalan cukup pesat di kota kecil seperti Magetan. Namun keinginan kakak saya tak pernah jauh dari satu hal: anaknya harus masuk sekolah Islam.
Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Selain pengetahuan ke-Islaman kedua orang tua yang pas-pasan, kakak saya ingin memastikan bahwa anaknya berada di tangan orang-orang yang dipercaya mampu memberikan ilmu agama, bahkan melebihi apa yang ia tahu. Apalagi, kedua orang tua Fela adalah orang sibuk. Mamanya, kakak sepupu saya, adalah sekretaris pribadi Bupati Magetan yang sedang menjabat saat ini. Sementara ayahnya adalah seorang mantri (begitu mereka mengistilahkan) Bank milik pemerintah. Kondisi pekerjaan mengharuskan mereka berangkat pagi dan pulang sore setiap harinya. Sementara saat mereka tak di rumah, Fela diurus oleh pembantu dengan pendidikan terakhir tamatan SMP.
Kesibukan kedua orang tua memang tak dapat menjadi pembenaran bahwa pendidikan anak menjadi urusan orang lain. Namun terkadang jika kondisi memaksa, penting untuk mencari orang-orang di luar keluarga dengan bekal pendidikan memadai sebagai supplier ilmu, selain yang diberikan oleh keluarga. Dan karena itulah kakak saya memilih memasukkan anaknya di salah satu sekolah Islam di kota saya. Bukan hanya agar Fela memiliki ilmu agama yang cukup, jauh melebihi itu, ia ingin agar Fela memiliki akhlakul karimah, akhlak yang mulia. Dan saya salah satu orang yang sangat mendukung keinginan kakak saya. Sebab sedikit banyak saya termasuk golongan penganut teori tabula rasa, meski yakin bahwa tetap ada campur tangan Tuhan di sana.
Kakak saya mungkin salah satu diantara sekian banyak orang yang percaya bahwa akhlak adalah dasar dari segala sesuatu. Akhlak bisa dibentuk dari kondisi lingkungan, termasuk budaya dan agama. Meski keberadaanya tak dapat diukur, namun saya yakin, semua orang memiliki standar yang sama tentang mana yang baik dan mana yang bukan. Semua orang dari suku apapun dan dari agama manapun.
Maka saya heran kepada media massa dan sekian banyak orang yang masih mempertanyakan mengapa para pimpinan daerah itu mencekal goyangan erotis Dewi Persik. Dengan dalih, masih banyak masalah besar yang harus mereka selesaikan seperti kemiskinan serta korupsi yang makin merajalela, tapi justru itu adalah hiburan bagi masyarakat kecil.
Oya?
Benar, goyangan para artis dangdut tersebut tidak akan menimbulkan kemiskinan. Juga bukan tindakan kriminal seperti korupsi. Namun tidakkah mereka sadar, bahwa goyangan yang tersaji di depan umum itu adalah layaknya virus yang langsung menyerang akhlak para penontonnya. Dan tidakkah mereka sadar, bahwa tindakan korupsi yang menjadi pemicu meningkatnya tingkat kemiskinan di Indonesia adalah karena para pemimpin itu tak memiliki akhlak mulia.
Maka bayangkan bagaimana Indonesia ketika akhlak manusia-manusianya telah terkena virus.
Subscribe to:
Posts (Atom)
