Showing posts with label Tentang aku. Show all posts
Showing posts with label Tentang aku. Show all posts

Friday, January 15, 2010

Tahun ke 25

Today is an ordinary day. Tidak ada yang spesial tentang hari ini. Kecuali angka yang bertambah satu jika saya mengisi formulir pada kolom umur, inbox yang mulai penuh sejak pagi padahal biasanya ngga laku, dua mini cake dari teman kantor, dan wall facebook yang penuh ucapan selamat, semuanya berjalan seperti biasa. Bangun jam 3 pagi, karena malamnya ketiduran sementara belum shalat isya’. Bagun lagi jam 4.30 untuk shalat shubuh. Sedikit bermalas-malasan di tempat tidur karena ini hari sabtu sehingga tidak diburu Andik untuk berangkat lebih awal ke kantor. Lalu, ngantor dengan diantar Andik naik sepeda motor, dan mampir ke Burjo untuk sarapan.

Empat atau lima tahun lalu biasanya saya sangat menanti saat-saat seperti ini. Menghitung setiap sms yang masuk. Juga berharap-harap akan mendapatkan kado apa dari siapa. Bagi saya yang saat itu masih belasan, hal-hal seperti itu membuktikan eksistensi saya di mata teman-teman. Semakin banyak yang memberi selamat, semakin eksis pula diri saya. Semakin banyak yang memberi kado, tandanya semakin banyak yang mencintai saya.

Dua tahun lalu suasananya sudah berbeda. 16 Januari 2008 adalah ulang tahun pertama saya setelah lulus kuliah. Waktu itu saya sedang tinggal di Pare untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris sambil mengisi waktu kosong yang saya miliki setelah keluar dari pekerjaan di salah satu harian di Surabaya. Tak satupun dari 24 orang teman satu kos yang tahu bahwa hari itu saya sedang bahagia. Bahkan Andik yang saat itu sedang melakukan proses pe de ka te pun tidak. Dia baru mengucapkan sehari setelahnya, karena yang ia ingat ulang tahun saya tanggal 17 januari. Hanya teman-teman lama yang mulai mengucapkan selamat via sms.

Tepat setahun yang lalu, detik-detik pergantian usia saya warnai dengan pertengkaran kecil dengan Andik. Saya tak ingat persis apa penyebabnya. Meski demikian, akhirnya Andik menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepada saya sebab ia melakukannya tanggal 15 januari pukul 22.30 di depan pintu kos saat mengantarkan saya pulang. Esoknya, tak ada lagi ucapan selamat darinya.

Hari ini, saya tidak lagi berharap-harap banyak yang memberi selamat. Tak lagi menghitung berapa sms yang masuk. Juga berharap Andik berubah jadi super romantis. Meskipun saya tahu dia sempat berusaha untuk melakukannya dengan menanyakan kado apa yang saya inginkan. Usia yang mulai masuk angka krisis, 25 tahun, akan saya lalui cukup dengan rasa syukur yang tak habis-habisnya. Karena hadiah luar biasa sudah saya dapatkan selama 24 tahun usia saya.

Betapa Allah memberikan kenikmatan yang tak terhitung selama setahun terakhir, dan tahun-tahun sebelumnya tentunya. Seorang suami penyejuk hati yang dikirimkan dari Tawanganom untuk berada di sisi saya sejak mata terbuka hingga terpejam lagi. Pekerjaan yang lancar tanpa hambatan. Mimpi yang meski tertunda tapi masih melekat dalam hati saya. Dan yang terpenting, sebuah kado istimewa yang tumbuh dalam perut saya. Bahkan sebelum saya sempat meminta. Tak mungkin terjadi tanpa seijin-Nya.


Yogyakarta, 16 Januari 1985 11.30
Thank you Allah for my wonderful life

Friday, March 20, 2009

7 Unimportant Things I Want Most

1. Mencoba berbagai extreme games.
Bohong banget kalau saya bilang I’m freak of extreme games. Sebab belum banyak permainan ekstrim yang pernah saya coba. Jadi masih terlalu dini untuk mengatakan saya pecinta permainan gila. Coba saya sebut satu persatu sejauh ingatan: rafting, flying fox, Tornado di Dufan (saya mencoba semua permainan di Dufan dan ini satu-satunya yang bikin saya berteriak), walking on the rope (ah saya lupa sebenarnya namanya apa. Yang jelas saya berjalan diatas seutas tali untuk menyeberangi tebing dan ketika saya sampai di tengah, tali itu dibalik. Whoaaa.. what an interesting game ever!), kora-kora manual dengan pengaman manual di pasar malem sekaten, turun tebing. Selebihnya saya lupa. Levelnya memang masih rendah. Tapi saya sangat bersemangat menjajal permainan adrenalin macam ini. Mengukur seberapa jauh saya bisa mengalahkan rasa takut, kecuali bertatap muka dengan hantu dan film hantu.



2. Berhenti ngomongin orang
Sebuah ancaman mendarat dari seorang teman yang ingin menjadi partner hidup saya kelak.
“Tar kalo nikah, awas aja kalo kamu ngomongin keburukan orang lain,”.
Tidak jelas memang apa ancaman sesungguhnya. Tapi saya mengangguk saja, tanda setuju. Toh saya sendiri telah merasakan betapa tidak enaknya membuka aib orang lain. Beberapa waktu terakhir, aib si A atau si B atau si C sering mampir di telinga saya. Padahal si A,B,C itu notabene adalah teman-teman saya sendiri. Yang tiap hari ketemu. Tiap hari bercanda. Tiap hari duduk bersama. Saya sering berusaha netral. Tak mengompor-kompori, juga tak terlalu membela orang yang menjadi sasaran pembicaraan. Tapi tak jarang pula usaha saya itu gagal. Akibatnya sedikit demi sedikit saya mulai membicarakan aib orang. Padahal hati ini capek juga akhirnya. Sama sekali tidak ada untungnya. Malah bikin dosa makin numpuk saja. Sumpah, saya ingin berhenti!

3. Olahraga
Keinginan sudah ada. Niat juga sudah dilafalkan dari dulu. Tapi kemauan yang sulit diajak kompromi. Selalu ada saja alasan untuk menunda keinginan saya satu ini. Biar saya sebut satu per satu: tidak bisa bangun pagi untuk jogging, tidak punya baju olahraga yang oke, tidak ada temannya, pulang kerja sudah sore jadi capek kalau mau ikut senam sore, di tempat fitness yang ada cowo semua, kolam renang khusus wanita jauh lokasinya, belum sempet beli shuttlecock meski raket sudah disediakan sama anaknya ibu kos, de el el. Banyak banget kan? Ah, besok pagi lah, saya mulai berolahraga!

4. Kursus menjahit
Biar mereka mengatakan saya tomboy, namun saya memiliki jiwa keibuan yang sangat tinggi. Buktinya saya ingin sekali mengeksekusi keinginan saya ini dalam waktu dekat. Tujuannya pun sungguh mulia: biar bisa mengirit pengeluaran beli baju. Khususnya baju anak saya kelak. Jaman sekarang ini, pakaian anak jauh lebih mahal dibading pakaian orang dewasa. Selain itu, kalau saya bisa menjahit, setidaknya masih bisa berguna hingga hari tua kelak. See… ? Cita-cita saya sungguh mulia. *sigh*

5. Menikmati sunrise dari puncak gunung
Belum pernah sekalipun saya merasakannya. Suatu ketika Kurus pernah mengajak saya camping “suatu saat nanti”. Sayangnya, sepertinya ‘suatu saat’ yang dikatakan kurus tak kunjung datang. Makanya saya belum berangkat sampai sekarang. Sebenarnya rada keder juga. Membayangkan hal-hal gaib yang mungkin terjadi di puncak gunung sana. Konon kabarnya, jin itu punya dua tempat tinggal di dunia ini, yakni lautan dan gunung. Kabar itu diperjelas lagi oleh sutradara film-film horror yang seringkali mengambil setting di hutan pegunungan. Tapi membayangkan betapa cantiknya matahari pagi dari atas sana, rasa takut saya harus dipendam lebih dulu. Bukankah obat rasa takut itu adalah berhadapan dengan rasa takut itu sendiri?

6. Makan kepiting bumbu asam pedas.
Jangan tertawa kalau saya bilang: seumur hidup saya baru makan kepiting satu kali. Bulan Juli tahun lalu, di Pantai Depok. Saat rapat persiapan Ramadhan 1429H bersama rekan-rekan kantor. Sensasi pertama: ternyata daging kepiting benar benar benar lezat. Meski harus belepotan untuk memakannya. Saya menyesal dulu tak mengambil jatah banyak. Masih malu-malu. Sekarang mau makan lagi musti pikir-pikir. Di kota harus merogoh kantong minimal 23 ribu untuk satu porsi kepiting. Aih, itu kan jatah makan anak kos (baca: saya) sehari?

7. Jadi ibu rumah tangga yang berpenghasilan
Sounds classic. Tapi, I hate to spend my time just for working. Untungnya saya kerja di NGO yang menghimpun zakat dari para aghniya untuk kesejahteraan kaum dhuafa. Setidaknya saya tidak membanting tulang untuk memperbesar perut para penguasa. Seandainya saya harus berhenti dari pekerjaan sekarang ini pun, mungkin saya akan mencari pekerjaan lain yang masih ada hubungannya dengan kemanusiaan. Hitung-hitung ngumpulin tiket tembusan ke salah satu pintu sorga. Tapi kalau dipikir ulang, waktu yang saya habiskan untuk bekerja jauh lebih besar dibanding waktu untuk keluarga. Jika saya sudah berkeluarga nantinya. Delapan jam di kantor, delapan jam berikutnya untuk istirahat, dan delapan jam lain untuk keluarga. Padahal delapan yang terakhir masih terbagi untuk memasak, membersihkan rumah, belanja, de el el. Sementara saya punya kewajiban mengajari anak mengaji, mendidik mereka untuk shalat lima waktu, so what do I live for? Kalau bukan untuk itu? (:p kaya saya telaten aja...!)

Jadi mulai sekarang saya harus memikirkan nasib keluarga saya kelak tanpa meninggalkan potensi saya untuk menghasilkan uang. Menjadi penulis mungkin. Wow.. I do really want to be a professional writer. Seperti Helvy Tiana Rosa. Beramal melalui kata-kata. Bayangkan betapa mulianya profesi ini. Hanya dengan menulis, bisa mengubah sebuah peradaban. Menjadi inspirasi bagi kaum muda untuk tetap berpegang teguh di jalan Allah. Tak akan terhitung koin amal mengucur di buku tabungan Bank Rokib yang selalu mendampingi tangan kanan kita ini. Dengan satu syarat tentunya: semuanya dalam rangka menyeru ke jalan Allah. Ya.. I’ll be there.

Monday, March 16, 2009

Ukuran memang Penting?


I was an I-don’t-care-what-size-are-you person. Yup, saya tidak pernah peduli seberapa besar badan saya. Bahkan saya dengan bangga menunjukkan pola makan yang naudzubillah pada dunia. Santai saja, memang begini adanya. Hingga…

Sabtu kemarin, seorang teman SMA sekaligus kos jaman kuliah dulu minta diantar belanja di Malioboro. Sepulang dari studi banding di Magelang bersama rombongan tim PNPM Magetan ia meminta saya memilihkan batik untuk kerja. Itu niat awalnya.

Niat hunting batik yang elegan di Mirota Batik luntur ketika kami melihat tulisan discount terpampang di Matahari Malioboro Mall. Meri yang sedang mengantongi banyak duit pesangon dari pemerintah langung saja menyerbu rak-rak bertumpuk pakaian wanita. Satu celana bahan dan kemeja kerja lengan pendek sudah berada dalam tas belanja. Satu demi satu rak pakaian kami singkap demi mendapatkan baju terindah dengan harga termurah. Sesuai prinsip ekonomi. Lalu sampailah kaki kami pada keranjang celana jeans merk Dual yang diobral dengan harga 69 hingga 79 ribu.

Dua celana jeans model pinsil warna biru belel ukuran M saya jinjing menuju ruang ganti. Sementara Meri membawa dua celana hitam dengan model dan ukuran berbeda. Satu model pinsil dengan ukuran S, lainnya model cutbray ukuran M.

“Satu kamar aja, Jeng. Biar bisa gantian nyobanya!” pinta Meri

Maka di ruang itulah saya baru menyadari, ternyata tubuh saya telah menggelembung sedemikian rupa. Meri dulunya adalah cewe oversize. Semua pakaian dia masuk di badan saya, tapi tidak sebaliknya. Tapi kali ini celana cutbray hitam ukuran M yang melekat pas di badan Meri, tak muat untuk saya. Ini mengindikasikan bahwa dunia telah berbalik.

“Wah, Jeng, ga nyangka sekarang kok aku bisa pake S ya?” entah menghina atau heran dengan tubuhnya sendiri, Meri berkata.

Tiga jam setelahnya, saya pulang dengan pertanyaan : emang badanku segitu gendutnya ya?

Sejak tinggal di Jogja angka timbangan saya memang naik. Sekitar 5 kilogram dalam kurun waktu 10 bulan. Sejauh ini saya tak pernah merasa risi. Bahkan mungkin saja sebenarnya pertambahan berat badan itu pertanda hati kita selalu bahagia. Saya juga cuek saja ketika orang-orang mulai berkomentar.

Si Kurus awalnya. Orang ini memang perhatian betul.

“Ya ampun, badan kok kayak gajah,” katanya dengan sangat sangat sangat dan sangat hiperbolis.

“Ah itu kan gara-gara kamu kurus aja, trus iri, makanya ngatain orang lain gendut,” saya menyangkal.

Lalu teman-teman kos saya.

“Mbak Ajeng gendutan ya. Tuh perutnya mulai buncit,”.

“Biarin lah, ini kan one pek,”.

Kemudian teman-teman kos saya di Surabaya dulu.

“Mbak Ajeng… pipinya tambah tembem aja,”.

“Ya kan tambah imut,” saya masih saja menyanggah

Ibu saya tak mau ketinggalan ikut berkomentar.

“Jeng, badannya kurusin dikit lah. Tar kalo mau nikah badanya gemuk gitu kan jelek,”.

“Loh justru kalo badannya agak gendut malah bagus buk, baju pengantinnya bisa pas badan, gak kelonggaran,” saya tetap mempertahankan diri.

Walaupun terkadang komentar-komentar mereka sedikit mengusik, tapi saya masih berpikir bahwa bagaimanapun my body is wonderland. Rasanya ingin protes juga sih. Emang kenapa kalo pipi saya chubby? Emang salah ya kalau lingkar perut semakin gede? Trus, kalau mau nikah, emang harus kurus dulu?

Meski terpukul juga sih sebenarnya, menyadari fakta bahwa ukuran M tak lagi muat, sungguh menyakitkan. Tapi ini kan badan saya! Diapa-apain kalau dari sananya dikasih pipi tembem ya terima aja. Dimana-mana juga, kalau berat badan naik lingkar perut ya bertambah. Hukum alam namanya. Diet? Tar ah kalau udah hampir mau nikah aja. Memang ukuran penting banget ya?

Friday, August 8, 2008

Bingung

Kaki saya berlari mengejar akhirat
Sementara pandangan tak pernah bisa lepas dari dunia

Ah, mengapa tubuh saya sulit sekali saling berkompromi?

Wednesday, July 30, 2008

Sancaka

Saya tak bergeming. Hanya sesekali menengok, menerawang jauh, bertanya-tanya adakah tanda-tanda yang saya tunggu muncul.

Beberapa kereta lewat sudah. Satu, dua, tiga. ini sudah enatah yang ke berapa kali tiupan peluit panjang terdengar. Memanggil-manggil saya untuk segera beranjak. Mengepulkan asap keperkasaan. Menggerakkan kokohnya roda besi menggetarkan hati.

Saya tetap tak bergeming. Kereta-kereta itu, jujur saja, menggelitik pikiran saya. Menggoda kesabaran yang kukuh saya dirikan. Apalagi tujuan tak berbeda. Bahkan datang lebih cepat dari prediksi saya.

Tapi tubuh saya tak bergerak. Meski badan sudah pegal-pegal menunggu lama. Rasa juga mulai gulana. Hati juga hampir lelah. Menunggu Sancaka jurusan Surabaya-Jogja tiba.

Sunday, May 11, 2008

Pertarungan

Saya adalah pemenang
Ya, saya selalu menjadi pemenang
Dalam setiap pertarungan saya tak pernah kalah
Selalu jadi pemenang
Tanpa perlu berkeringat
Apalagi berdarah-darah

Tapi itu dulu

Hingga akhirnya saya mengerti anyir bau darah
Paham asinnya keringat
Hapal kata orang "kalah dulu kalau mau menang"
Atau dongeng tentang si pecundang yang berjuang bangkit dari kekalahan
Lalu akhirnya menang

Tapi tolong ingatkan saya
Bagaimana rasanya menjadi pemenang

Wednesday, January 30, 2008

Sendiri

Tak seorang pun di dunia ini mengerti
Kalimat yang kuucap
Dengan bahasaku
Bahkan saat aku mencoba menggunakan bahasa mereka
Tetap tak pernah mereka mengerti
Dan aku hanya bisa menangis
Tak tahu dengan cara apalagi aku akan membuat mereka mengerti kalimatku

Saat aku tak lagi bisa mengendalikan dunia
Saat aku melihat bolaku terlepas dari genggaman
Saat aku tak mampu menuliskan sebuah kisah mengesankan pada skenario hidupku
Dengan penaku sendiri
Saat aku tak kuasa menentukan jalan mana yang harus kulalui
Untuk sampai ke taman firdaus yang dibangun untukku
Bahkan membayangkannya pun aku tak bisa
Sementara aku hanya bisa menangis
Atas segala ketidakberdayaanku

Aku memang manusia sombong
Yang tak mau mengaku kalah dalam pertarungan ini
Yang tidak sabar menunggu waktu lebih lama untuk membuat naskah yang jauh lebih menarik dengan segala lika-likunya
Yang terlampau cepat merasa lelah berjalan di lorong panjang, gelap, dan berliku menuju istana
Dan hanya mau melewati jalan pintas lebar beraspal yang tak mungkin ditemui
Yang merasa bisa menghalau topan dalam kesendirian
Sementara tubuhku tak lebih besar dari setitik debu
Yang tak rela melihat manusia lain memegang batangan emas
Sedangkan aku hanya mengantongi bijih besi
Yang hanya ingin dimengerti dan didengar
Sementara tak pernah mau mengerti dan mendengar kata-kata mereka
Yang selalu merasa miskin diantara harta yang menggunung
Aku hanya bisa menangis

Sedangkan aku tak pernah menyadari
Inilah cara Tuhan mencintaiku
Inilah cara mereka menunjukkan kasih sayangnya padaku
Inilah cara dunia mendewasakanku
Bahwa kegelapan akan menghapus rasa takutku
Bahwa jalan berbatu akan mengajariku untuk berlari tanpa terjatuh
Bahwa angin akan menunjukkan cara menguatkan tubuh rapuhku
Bahwa hujan akan menghapus air mataku
Dan aku benar-benar menangis

Wednesday, January 2, 2008

Hepi Nyu Yii

Tak terasa setahun sudah berlalu sejak saya menikmati pesta kembang api di alun-alun Magetan pada pergantian tahun 2007 lalu. Banyak hal yang mempengaruhi hidup saya selama satu tahun saya melewatinya. mulai dari magang di Metro TV Surabaya yang sedikit banyak membuka mata saya akan kehidupan kaum pers, plus membuat saya kembali melirik profesi reporter yang sekian lama saya pendam. Lalu skripsi yang menyedot hampir seluruh energi dan pikiran, serta mengajarkan bagaimana menjadi seorang pemberani. Berani mencoba hal baru. Berani bertanggungjawab. Berani nyleneh. Juga berani melek sendirian di tengah malam.

Lulus, dan lolos dari jeratan duo macan penguji skripsi saya, adalah salah satu titik balik kehidupan saya tahun lalu. Semua berubah. Mulai dari pola pikir hingga pola tidur. Sebenarnya untuk hal yang saya sebut terakhir, sejak proses pengerjaan skripsi memang sudah berubah total. Terutama 2 bulan terakhir. Ditambah lagi pekerjaan*, serta suara cempreng si kurus**. Benar-benar mengganggu kehidupan malam saya bersama guter (guling tercinta)***.

Tapi di tahun 2008 ini, pantaslah saya menginginkan hal yang lebih:
  1. Mendapatkan pekerjaan baru secepat mungkin. Meski masih ada dilema dalam diri saya, sebab orang tua yang ingin anaknya jadi seperti orang kantoran biasa yang tunduk pada aturan sementara sang anak yang ndablek dan menginginkan pekerjaan yang bisa membawanya keliling dunia, tapi keinginan saya tetap bulat. Saya ingin segera mandiri dan tak lagi menjadi beban orang tua, negara, dan agama. Selain itu pinginnya saya bisa bagi-bagi angpao (lagi) pada keponakan yang jumlahnya kian banyak saja, juga cucu-cucu saya. Maklum, meski terbilang masih muda, saya sudah dipanggil oma oleh beberapa anggota keluarga. (Hhhh..)
  2. Pergi menemui kawan-kawan lama saya di Makassar.... dengan syarat, harus gratis! Untuk hal yang satu ini, saya memang sedikit terobsesi. Bahkan saya punya angan-angan untuk bersuamikan orang Makassar, jadi saya bisa tinggal di sana. Wakakakakak... Sayangnya para biro jodoh saya di sana belum menemukan satu yang tepat, padahal foto-foto sudah disebar. heuheuheu...
  3. Menikah. Meski menurut perhitungan logis yang sudah saya lakukan bertahun-tahun yang lalu bahwasanya secara mental, spiritual, maupun material saya baru siap menikah setahun setelah bekerja, dimana itu berarti kemungkinan saya baru akan menikah tahun 2009 nanti dikarenakan sampai tahun ini saya belum bekerja, saya tak pernah putus asa untuk tetap menyimpan keinginan menikah di usia 23. It means, this year I have to get marry. Saya tidak ingin dipanggil nenek oleh teman-teman anak-anak saya ketika saya mengantarkan mereka ke TK kelak. "Eh kamu diantar nenekmu ya?Wah cantik banget ya nenekmu?Arggh.. what a nightmare. Tetap tidak membangakan meski mereka mengatakan saya cantik. Singkatnya ingin hidup happily ever after dengan lelaki yang akan menjadi partner saya berpetualang menghadapi dunia. (heuheuheu.....)

Yah.. meski sedikit terlambat,,

SeLAmaT tAHun bARu..
sEMogA Allah seNAntIAsa mELimPAhkaN rAHmat kEPAda kiTA uMAt yANG seLALu MencINtaI-Nya

Amien..


*)Saya sempat bekerja sebagai seorang reporter yang mengharuskan saya untuk selalu pulang malam dan tidur lewat tengah malam
**)Kurus adalah sejenis nama orang aneh yang memandang saya dengan kacamata aneh juga. Dia selalu mengatakan saya gendut, padahal ...bahkan tukang pom bensin yang tidak kenal pun mengatakan saya lansing. Tapi kata-kata kurus tidak akan menyurutkan keistiqamahan saya untuk makan dengan porsi berlebih.
***)Guter adalah guling jelek nan kusut tapi sangat empuk dan selalu menemani tidur saya. Saya tetap mencintainya meski teman-teman saya mencemooh kondisinya.

Thursday, December 6, 2007

Perempuan dalam Kereta


Dalam kereta ekonomi Rapih Dhoho tujuan Kediri, saya pikir saya termasuk orang paling sabar. Saat itu hampir semua orang mengeluh, kereta yang seharusnya berangkat pukul 15.47 dari Stasiun Gubeng, kemudian melanjutkan perjalanan ke Stasiun Semut untuk ganti lokomotif, molor tak kurang dari satu jam. Penyebabnya bisa jadi karena ada masalah teknis atau karena banjir, karena memang hujan lebat baru saja mengguyur Surabaya beberapa saat sebelumnya.

Kereta terasa pengap karena ratusan penumpang saling berdesakan. Belum lagi lantai gerbong yang tergenang air. Lampu gerbong yang mati menambah keruh keadaan. Seorang perempuan setengah baya di samping saya tak henti-hentinya menggerutu. Saya? Hanya bisa menucapkan istighfar beribu kali untuk menenangkan hati dan mendinginkan kepala yang rasanya seperti mau pecah. Saat itu saya merasa berada pada puncak kesabaran, hingga saya dapati seorang perempuan awal tiga puluhan masuk gerbong yang saya tumpangi dengan dua anaknya yang masih kecil.

Tangan kirinya membawa tas hitam kecil sekaligus menggendong anaknya yang baru berusia sepuluh bulan. Sementara tangan satunya menarik travel bag ukuran sedang serta menggandeng anak lelakinya yang lebih besar. Dan perempuan itu duduk di sebelah saya.

Selama perjalanan, si anak lelaki tak pernah berhenti bertingkah. Hiperaktif mungkin, itu menurut saya sih. Dia selalu mengeluarkan kepalanya melalui jendela dengan tumpuan kaki di (saya kurang tahu istilahnya) meja kecil yang menempel pada dinding kereta. “Lihat, banjir ma,” ucapnya. Bukan hanya saya, orang-orang yang melihat merasa miris, khawatir jika si bocah hiperaktif tergelincir dan jatuh keluar kereta. Sementara itu, si kecil tak henti-hentinya menangis karena kepanasan.

Apa yang dilakukan perempuan itu? Dengan penuh sikap keibuan, ia menyusui si kecil sambil mengipasinya. Di sela-selanya, ia menegur anak lelaki, menanyakan apa yang dilihatnya di luar. “Tidak ada apa-apa ma,” jawab si bocah. “Ya sudah, tidak ada apa-apa kan? Turun ya, nak!” ujar perempuan itu tanpa memaksa.

Selama hampir dua jam perjalanannya ke Stasiun Sumobito, yang dalam kondisi normal bisa ditempuh dalam waktu kurang dari satu jam, tidak terdengar kata-kata bernada keras keluar dari mulutnya. Bahkan ketika si kecil sudah mulai terlelap di pelukan tangan kirinya, tangan kanannya masih mampu menjaga bocah lelaki yang tetap berdiri dan menjulurkan kepala keluar. Sesekali tampak keduanya tertawa.

Hingga saat kereta berhenti di Stasiun Sumobito, perempuan itu turun membawa semua bawaan dan si kecil yang tertidur serta si bocah yang mulai mengantuk di gandengan. Tak terlihat seorang lelaki pun yang membantu meringankan bebannya. “Kemana bapaknya?” Mungkin itu menjadi pertanyaan yang berkecamuk di pikiran penumpang lain yang melihatnya. Termasuk saya.

Saat itulah saya merasa malu. Ternyata kesabaran saya belum seberapa.

Sunday, October 21, 2007

Rumah

Ya Tuhan..
sekali lahi saya merobohkannya. Sebuah rumah megah. Berdiri sekian lama. Beralaskan permadani, memastikan saya nyaman di dalamnya. Berhiaskan taman dan bunga-bunga membuat saya tak bosan memandangnya. Ditambah kursi sofa, yang akan membuai dengan lembut siapa pun yang duduk di atasnya. Gagah dan memberikan rasa lapang. Dengan puluhan pengawal yang akan bersorak menyambut kedatangan saya. Ke rumah itu, yang telah menunggu kehadiran saya begitu lama. Namun kali ini tak tersisa. Maafkan saya..

Karena saya telah memilih. Rumah untuk pulang. Tempat saya istirahat saat lelah.

Sebuah rumah sederhana. Kecil, dan mungkin masih ada atap yang bocor di salah satu sudutnya. Saya belum terlalu lama memeriksanya. Tapi saya akan membuatnyamenjadi besar. Menutup atapnya yang berlubang dengan segala cara. Mengecatnya dengan berbagai warna. Berharap dapat berlindung dari teriknya matahari dan derasnya hujan. Berharap dapat menjadi tempat menghimpun energi dan semangat untuk melangkah menghadapi dunia esok hari. Semoga saja

Wednesday, October 17, 2007

Kerinduan sebenarnya


Saya tarik napas dalam-dalam. Mencoba memasukkan sebanyak-banyaknya udara. Merasakannya masuk dalam paru-paru, dan membiarkan oksigen memenuhi otak saya.

Saya nikmati setiap belaian lemut angin yang berhembus lembut. Menyentuh wajah yang baru saja dibilas. Segar.

Saya cium aroma dedaunan. Saya dengar lekat-lekat gesekan daun kering di tanah, terinjak kaki manusia yang melangkah melewatinya.

Saya akan merindukan tempat ini. Saangaat merindukan tempat ini.

***


Saya nikmati sentuhan itu. Belaian lembut tangan lelaki separuh baya. Mengusap kepala yang tertutup jilbab ini. Saya angkat tangannya, menggenggam dan merapatkannya ke hidung. Sebuah cara untuk mendapatkan restu yang bukan sekadar tradisi. Berharap do'a yang keluar dari bibirnya akan selalu mengiringi langkah saya.

Tak ingin saya lepaskan pelukan perempuan di depan saya. "Hati-hati," bisiknya. Saya hanya mampu mengangguk pelan. Hanya ucapan salam yang mengantarkan kepergian saya.

Langkah kaki saya terasa berat. Meninggalkan tempat penuh kenangan. Saya buka pintu mobil, duduk, dan memasng sabuk pengaman. Perasaan saya tidak enak. Sahabat di sebelah saya berkata, "Sudah, tenanglah".

Ternyata saya ketinggalan kereta.

***


Saya lambaikan tangan. Memanggil taksi yang melintas di jalan raya tempat saya berdiri. Pintu terbuka. "Ke Karangwismo, Pak," kata saya. Selama beberapa menit berikutnya saya biarkan suasana tetap hening.

Sopir taksi mencoba memecahkan keheningan yang saya ciptakan. "Lewat Wonokromo, mbak?" tanyanya. "Iya," jawab saya singkat. Saat itu yang saya inginkan hanyalah segera sampai dan kembali melanjutkan hidup. Tidak ingin saya tangisi hati yang tertinggal.

Kembali sopir taksi memecah lamunan saya. "Maaf, ini lewat Kertajaya ya,mbak?". "Iya," jawab saya lagi. Tidak nyaman juga ternyata hanya berdiam diri. Saya pun meneruskan pembicaraan dengan sopir, dengan pertanyaan yang cukup basi,"Surabaya masih sepi ya, Pak?".

Pembicaraan pun berlanjut. Dari situasi Surabaya, sampai isu paling up to date: mudik. Bapak yang ternyata asli Madiun itu bercerita juga banyak tentang keluarga dan pekerjaannya. Sayang saya lupa melihat tulisan yang tertera di tanda pengenalnya.

Sudah dua ahun ini dia tidak pulang ke Madiun. Orang tua sudah tidak ada, katanya. Sehingga tidak ada lagi yang mempersatukan perasaan anggota keluarga yang lain. "Padahal biasanya kalau ada ibu ya mbak, semua permasalahan rasanya hilang. Walaupun cuma melihat beliau saja, rasanya sudah tidak ada masalah lagi. Tapi sekarang saya sudah tidak bisa lagi," ceritanya.

Saya mengangguk. Mungkin itulah jawaban mengapa pulang ke rumah menjadi perjalanan yang paling saya nantikan. Mengapa meski hanya satu detik saja, tak ingin saya memejamkan mata saat berada di rumah. Sebab saya tahu semua masalah hilang disana. Tempat yang selalu saya rindukan, dimana selalu ada orang-orang yang merindukan saya. Dengan tulus.

karena rindu
dunia terasa sepi
tapi karena dirindukan
dunia begitu berarti
(Andi Eriawan, Ruang Rindu)

Thursday, October 4, 2007

Sukses a la Tianshi

Akhir bulan lalu saya mendapat tugas, meliput tren busana muslim Ramadhan dari beberapa butik di Surabaya. Mendengarnya, jelas saya senang sekali. Sekalian cuci mata, pikir saya.

Sebagai seorang perempuan wajar kalau saya menyukai dunia fashion. Meski harus saya akui, saya termasuk dalam golongan orang-orang yang old fashion. Tidak pernah mengikuti perkembangan dunia fashion. Buat apa, menurut saya. Toh tidak semua pakaian yang sedang menjadi tren dikalangan anak muda seperti saya, kalau boleh saya menyebut diri saya begitu, cocok untuk bentuk tubuh. Jadi menurut hemat saya lebih baik berpakaian ala kadarnya, yang penting nyaman dipakai dan tidak bertenangan dengan aturan yang saya anut.Apapun yang akan orang katakan.

Bukan hanya old fashion, saya juga termasuk orang yang cuek terhadap tanggapan orang lain mengenai penampilan saya. Bagi saya, rasa nyaman dan percaya diri ketika mengenakan satu busana jauh lebih penting daripada komentar orang terhadap warna atau model baju yang saya pilih.

Meski demikian saya masih tetap seperti perempuan kebanyakan yang gila fashion. Berkeliling ke toko-toko pakaian, mengincar diskonan, melihat-lihat dan bahkan mencoba beberapa baju bermerk yang mungkin saya harus menabung terlebih dahulu untuk membelinya, dan membayangkan seandainya saya mengenakan baju tesebut. Gila memang.

Kesempatan mengunjungi beberapa butik tersebut akhirnya saya manfaatkan untuk cuci mata. Sekadar melihat model, siapa tahu bisa ditiru. Sebab lembaran di dompet saya tidak cukup untuk membelinya.Mengeluarkan kartu ATM?Saya masih cukup rasional untuk tidak mengeluarkan kocek demi sepasang kain cantik berpayet yang sangat dewasa.

Namun salah satu narasumber yang ingin saya temui tidak ada di butik miliknya. Wawancara pun akhirnya saya lakukan via telepon. Merasa kuran puas, saya akhirnya mengajaknya untuk bertemu. Sang narasumber yang merupakan bisnis woman ini pun menyanggupi. "Baik mbak, jam 1 di toko ya," katanya waktu itu.

Jam 1 lewat 15 menit saya datang kebutiknya yang berada di kawasan dukuh kupang. Menurut sekretarisnya, orang yang saya tunggu ini belum tiba dari Gresik. Dengan penuh kesabaran, saya memutuskan untuk menunggu sambil melihat-lihat pakaian saja.

30 menit berlalu. Tapi orang yang saya tunggu belum juga tiba. Merasa kasihan melihat saya yang mondar-mandir sambil sekadar memilah-milah pakaian, ibu sekretaris pun menghubungi narasumber saya. Beberapa menit berbicara di telepon, saya pun memutuskan menemuinya dia Wisma Tiara, tempat narasumber saya akan melakukan aktivitas berikutnya.

Wisma Tiara adalah sebuah gedung perkantoran di bilangan panglima sudirman. Perlu memutari jalan panglima sudirman dan basuki rahmat dua kali bagi saya untuk menemukan gedung dengan tulisan Wisma Tiara tersebut.


Sesuai dengan anjuran narasumber, setelah memasuki Wisma Tiara saya pun langsung menuju lantai 5. Pada awalnya saya merasa aneh. Semua orang yang saya temui di lift menuju lantai lima. Mereka mengenakan pakaian formal, berjas dan berdasi. Padahal seingat saya gedung ini berlantai 9. Kenapa hanya lanati 5 yang jadi tujuan? Namun, pertanyaan saya terjawab setelah saya menginjakkan kaki dia lantai 5.

Saya mengeluarkan HP dan menekan nomor yang sudah beberapa kali saya telepon. "Bu, saya sudah di lantai lima," kata saya seketika mendengan telepon diangkat dari seberang. "O'ya sebentar mbak. Saya masih di tol Gresik. Dua puluh menit lagi saya sampai. Mbak masuk saja ke ruangan, nanti disitu diminta registrasi 7ribu. Nanit saya ganti mbak. Duduk di depan ya! Itu juga ilmu kok," jawab narasumber saya tanpa tersela.

Seandainya tidak didesak keperluan wawancara, saya yakin tidak akan pernah menginjakkan kaki di ruangan tersebut. Sekalipun ada undangan dengan iming-iming ditraktir makan sekalipun.

Memasuki ruangan tidak terlalu luas tersebut saya memutuskan duduk di pinggir. Supaya terlihat oleh narasumber saya. Di sebelah saya seorang ibu-ibu berpakaian sederhana, terlihat mengangguk-angguk sambil sesekali berbisik dengan rekan di sampingnya, mendengar penjelasan seorang presentasi di depan. dr.Dewi, begitu orang-orang berjas itu menyebut presenter itu. Saat saya masuk, dr.Dewi sedang menjelaskan kaki-kaki atau anak cabang yang menghubungkan dari satu member dengan member lain. Juga tentang perhitungan keuntungan yang akan diperoleh per bulan saat seorang member bisa memasukkan member baru untuk bergabung.

Ya, saya ada dalam ruangan OPP Tianshi. Tak usai-usainya saya merasa heran, kenapa akhirnya nasib membawa saya untuk datang di acara ini. Padahal ajakan beberapa teman sesama Magetanisti yang sukses mempopulerkan di daerah asal saya sejak beberapa tahun lalu selalu saya abaikan. Saya tolak mentah-mentah bahkan. Dengan dalil-dalil yang saya buat sendiri. Dengan keraguan saya akan kebenaran syar'inya. Dengan alasan kesibukan, dan lain sebagainya.

Namun, demi tuntutan pekerjaan saya pun mengikuti acara tersebut dengan seksama. 20 menit berlalu. 30 menit. 40 menit. Satu jam berlalu sudah. Sementara narasumber yang saya tunggu belum juga tiba. Waktu pun akhirnya saya lalui dengan memandang heran kepada para peserta OPP. Bertepuk tangan setiap kali ada seseorang yang menunjukkan betapa suksesnya dia sebab mendapatkan gaji 20 juta perbulan. Atau betapa suksesnya dia karena telah berhasil mendapatkan mercy. Bahkan, tepuk tangan pun diberikan untuk sebuah tayangan video yang menampakkan seorang member yang telah sukses mendapatkan helikopter dan menempati bintang tertinggi di struktur 'kaki-kaki', bergitu saya menyebutnya, Tianshi.

Mungkin ini adalah bentuk kesuksesan bagi mereka. Pikir saya. Saya tidak mau memberikan judgment, apakah pandangan saya atau konsep kesuksesan mereka yang benar. Tapi saya akhirnya memahami, kesuksesan bisa kita peroleh ketika kita juga membantu orang lain untuk menjadi sukses. Maka jangan pernah menganggap orang lain sebagai kompetitor yang akan harus kita jatuhkan. Melainkan bantulah orang lain untuk mencapai kesuksesan, maka kita akan mendapatkannya dua kali lipat.

Satu jam lebih menunggu, narasumber saya akhirnya datang juga. Akan tetapi tidak serta merta saya bisa langsung melakukan wawancara. "Sebentar ya mbak, habis ini saya peresentasi di depan," katanya. Rupanya narasumber saya itu adalah salah satu bintang 8 di Surabaya yang telah memperoleh pendapatan 40 juta perbulan.

20 menit menunggunya dan 2 orang lain presentasi di panggung, akhirnya giliran saya untuk wawancara tiba. Cukup 15 menit kami berdialog. Data tambahan sudah cukup bagi saya. Saya pun pulang dengan membawa segudang ilmu tentang Tianshi dan 'kaki-kaki'. Juga tentang sebuah arti kesuksesan.

Thursday, September 20, 2007

Magical Moment


“Aku suka senja”. Seorang teman pernah mengatakan kepada saya. Waktu itu saya memintanya secara eksklusif menjadi sopir sehari. Berkeliling di pinggiran kota Surabaya. Mengambil beberapa gambar menarik untuk tugas UTS Fotografi Jurnalistik di kampus. Hampir satu tahun yang lalu. Kondisi saya yang pada saat itu sedang dalam masa penyembuhan dari sebuah operasi ringan tidak mengijinkan untuk bergerak banyak. Delapan jahitan di perut belum mengering.

Kalimatnya terlontar ketika saya memintanya berhenti di bilangan klampis. Saya turun dari Supra x-nya dan mengabadikan langit senja dengan kamera pinjaman dari kampus. Bukan karena dia adalah senja, namun murni karena kepentingan tugas.

Mendengar kata-kata teman tadi, saya hanya tersenyum. “Aneh” pikir saya. Langit memang menjadi pemandangan favorit saya. Namun selama 21 tahun menjalani kehidupan, saya paling takut dengan semburat merah yang muncul pada pergantian hari tersebut. Saya merasa itu seperti setan. Mungkin saya terlalu banyak membaca buku dongeng anak-anak.

“Pokoknya anakku kelak akan aku beri nama senja dan pagi,” tambah teman saya tadi. Dia memang menyukai warna merah di langit pagi dan senja. Merasa terusik dengan kata-katanya, saya pun akhirnya bertanya mengapa dia begitu suka dengan senja.

“Karena di punya magical moment yang tidak akan bisa dilihat dua kali. Indah sekali,” jawabnya. Kembali saya hanya tersenyum. Saya anggap dia terlalu mendramatisir suasana. Karena dia sedang jatuh cinta pada rekan satu jurusan mungkin. Atau karena dia ingin terkesan romantis. Saya tidak tahu. Yang jelas saya tidak pernasaran apalagi memasukkannya dalam hati. Saya pun hanya menjawab singkat, “O,ya?”.

Langit memang indah. Indah sekali. Tapi tidak saat berwarna merah. Saat merah, langit seperti marah. Terlebih menurut sepengetahuan saya, pagi dan senja adalah waktu turunnya setan ke bumi. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran saya. Saya hampir melupakan bahwa pada saat yang sama Tuhan menurunkan malaikatnya ke bumi. Hingga akhirnya ketika perjalanan kami sampai di jalan Airlangga, depan kampus B Unair, saya menjerit.

“Aah.. apa itu?”. Tangan saya menunjuk pada sebuah lukisan di langit sebelah barat. Di antara menara Fakultas Ekonomi Unair dan kubah Masjid Nuruzzaman. Sebuah garis merah keunguan menyembul di langit jingga. Saya hanya ternganga melihatnya.

Namun kenikmatan itu tak bertahan lama. Setelah motor yang kami tumpangi berbelok ke arah kiri, hanya berselang tidak lebih dari dua menit, saya tak lagi dapat menemukan lukisan tersebut. Tak habis-habisnya mata saya memandang ke sekeliling saya. Sejauh mata saya dapat memandang. Namun tetap tak dapat saya temukan kembali l lukisan itu.

"Itu namanya magical moment,"jelas teman saya sambil tetap menyetir motornya. "Kamu hanya bis melihatnya sekali. Tidak untuk kedua kalinya. Ajaib kan?" tambahnya.


Saya hanya terdiam. Akhirnya saya mengerti kenapa teman saya menjadi pemuja senja. Warna merah yang saya anggap representasi setan, ternyata justru sebaliknya. Mungkin itu menjadi salah satu alasan kenapa Tuhan melarang umatnya tidur dikala pergantian hari. Bukan karena agar tidak , meminjam istilah orang jawa, kesambet setan. Namun karena kita diperintahkan untuk menikmati indanya langit merah dan menjadi semakin bersyukur karenanya.


Sayangnya, saya seringkali lupa pada magical moment. Sampai pada satu hari ketika saya berkendara dari kota menuju kantor untuk setor berita, saya kembali melihat langit merah itu. Tepat di lagit terbuka sebelah kanan saya. Sedikit tertutup kepulan asap kendaraan kota. Meski saya menyadari telah tertinggal oleh magical moment. Mata saya tak bisa lepas untuk tetap mencari dimana dia bersembunyi.

Saya pun berjanji dalam hati. Suatu saat nanti akan kembali. Memandang langit merah. Menikmati setiap detik terindah yang tak dijumpai dua kali dalam sehari. Dengan seseorang duduk di samping saya.

Sunday, September 16, 2007

Awalku


Awal memang tidak pernah mudah. Seingat saya, itu adalah kata-kata yang dilontarkan seorang trainer outbond kepada kami, di Cikole, Lembang Februari lalu. Saat itu ada beberapa orang dari kami tidak memiliki keberanian untuk mencoba games yang berhubungan dengan ketinggian. Pak Roni, nama trainer itu, berusaha memberi semangat dan membakar keberanian kami.
Entah mengapa sampai sekarang kata-kata Pak Roni, tidak pernah lepas dari ingatan saya. Setiap kali saya mencoba hal baru yang tidak menyenangkan, hati saya selalu berkata, “awal tidak pernah mudah,”. Namun saya yakin ada hal besar menanti jika saya bersabar melakukannya. Dengan syarat yang saya lakukan tidak menyimpang dari ajaran agama dan norma.

Seperti saat ini. saya sedang memulai kehidupan baru saya. Hidup di kota besar. Lepas dari kampus. Sedang menggeliat keluar dari dari ketergantungan kepada orang tua. Mencoba berdiri sendiri. Terlebih selama ini, orang tua saya tidak pernah membiarkan saya untuk benar-benar hidup sendiri.

Namun saya tahu, awal memang tidak pernah mudah. Mencoba meniti karir di bidang jurnalistik. Dengan kemampuan menulis yang pas-pasan, kiranya tak pantas kalau meminta kompensasi terlampau besar. Saya sangat sadar itu.
Namun saya tahu, bahwa awal tidak pernah mudah. Semua orang pasti melaluinya. Hukum alam lah yang akhirnya berbicara. Siapa yang bisa bertahan hidup, dialah yang menjadi pemenangnya. Dan saya tahu, saya akan jadi pemenangnya.

Karena saya tahu, awal tidak pernah mudah. Sekarang tinggal bagaimana saya menjalankannya. Menikmatinya. Menjadi lebih baik dari hari sebelumnya. Terlalu cepat jika saya mengatakan tidak bisa. Sebab saya tahu saya bisa.

Ingatan saya berputar cepat. Di akhir kata-katanya, Pak Roni mengucapkan, “Finish what you,ve started”. Seketika, kalimat itu memecut hati saya. Kala itu saya belum menyelesaikan skripsi. Masih jauh bahkan. Belum ada separuh yang tuntas saya kerjakan, padahal deadline penyerahan skripsi tinggal empat bulan lagi.

Kalimat itu pula yang selalu memberikan suntikan energi bagi saya. Sampai-sampai saya menuliskannya dalam halaman pembatas skripsi saya yang menjadi pajangan sebulan ini. sebuah ungkapan yang ternyata sangat manjur melecutkan semangat saya.
Hanya berharap, kalimat itu akan dapat mengobarkan kembali sisa-sisa semangat Bahwa I will finish what I’ve started.

Monday, June 18, 2007

Tips Begadang

Begadang jangan begadang
Kalau tiada akhirnya
Begadang boleh saja
Asal ada batasnya

Penggalan lirik lagu karya Rhoma Irama di atas benar dan berlaku bagi saya. Begadang adalah sesuatu yang harus dihindari karena mengakibatkan kengantukan keesokkan harinya. Oleh karenanya, kecuali untuk main kartu dan bergosip bersama teman kos,saya tidak akan pernah melakukan satu aktivitas yang disebut dengan begadang.

Akan tetapi, beberapa waktu belakangan, dengan amat terpaksa saya melanggar prinsip saya tersebut. Bagaimana tidak, saya harus menyelesaikan skripsi sebagai persyaratan kelulusan dari universitas tak lebih dari 10 hari, sementara, saya merasa apa yang saya kerjakan selama ini masih jauh dari sempurna. Akhirnya dengan tekad bulat saya memutuskan untuk begadang sampai pagi demi skripsi saya.

Ada beberapa hal yang harus saya lakukan sebelum saya memulai begadang.

1. Mandi lebih sore. Biasanya saya mandi setelah pukul tujuh malam. Menyegarkan memang mengingat malam hari di Surabaya sangat panas. Namun efek yang dihasilkan adalah rasa kantuk yang luar biasa. Jadi agar mata tetap terjaga dan rasa kantuk tidak melanda, saya harus mandi lebih awal. Yah jam kira-kira jam tujuh kurang lima atau kurang sepuluh menit.

2. Ganti makan malam dengan makan sore. Waktu makan malam yang afdhol bagi saya adalah pukul delapan atau sembilan malam. Selain bisa menjadikan tubuh lebih berisi, makan (benar-benar) malam juga menimbulkan efek kantuk, sama halnya dengan mandi malam. Oleh karena itu makan malam harus dihindari dan diganti dengan makan sore, agar mata tetap melek dan program begadang berjalan sukses.

3. Siapkan beberapa makanan ringan yang tidak mengenyangkan sebagai teman begadang. Mie gelas, biasanya menjadi teman terbaik saya untuk begadang. Bagi yang mudah merasa kenyang, sebaiknya hindari mie sebagai camilan.

4. Siapkan minuman yang bisa membuat mata melek. Kalau saya biasanya menyediakan moccacino atau kopi instant lain sebagai pendamping makanan ringan. Kafein dalam kopi akan membuat mata tetap terjaga. Meskipun efek samping kafein tidak berlaku bagi saya, tapi rasa mulas yang dihasilkan setelah minum kopi instant menghalangi rasa kantuk saya.

5. Satu lagi. Coklat. Saya tidak tahu zat apa yang ada di dalam coklat, namun coklat membuat saya merasa lebih bersemangat dan tidak mengantuk lagi. Mungkin karena rasanya yang enak membuat saya ketagihan untuk terus makan dan tidak rela meninggalkan, bahkan untuk sekedar menutup mata. Oh, ya satu informasi, coklat tidak menimbulkan kegemukan, jadi jangan khawatir untuk mengkonsumsi coklat sebanyak-banyaknya, terutama dark coklat. Bagi yang tidak memiliki dompet cukup tebal untuk membeli coklat bermerk, coklat blok yang biasa digunakan sebagai bahan pembuat kue sah-sah saja untuk dimakan. Enak kok. Irit lagi.

Selamat begadang….

Friday, June 15, 2007

Kutukan Semut...berhati-hatilah!!

Saya bukan orang yang sangat percaya dengan hukum karma.

Tapi saya percaya bahwa setiap perbuatan pasti akan mendapat balasan.

Beberapa hari yang lalu saya mengambil pakaian yang sudah kurang lebih selama tiga hari saya jemur. Di jemuran tentunya, bukan di atap rumah.

Pada pakaian saya yang saya angkat tersebut, saya menemukan beberapa semut berbaris. Wah pikir saya, begitu manisnya saya sampai-sampai pakaian saya pun terkena aura kemanisan saya sehingga ditempeli oleh semut yang notabene doyan dengan yang manis-manis. Bagi saya sih biasa ya ditaksir oleh semut, secara, saya memang manis.. hehehe...

Berhubung gigitan semut itu menyakitkan dan menimbulkan gatal-gatal, saya pun membunuh satu persatu semut-semut kecil tersebut, tanpa rasa bersalah. Secara naluriah, manusia mana yang mau disakiti oleh seekor semut, bukan begitu? Apalagi, itu kan hanya seekor semut!! Sedangkan kita kan seekor eh seorang manusia?! Gengsi dong kalau saya harus mengalah pada semut. Betul tidak?

Ternyata kebiasaan saya membunuh.. semut.. itu tidak berhenti di situ saja. Setiap kali saya melihat semut yang sedang gerak jalan, baris berbaris, naluri pembunuh saya selalu muncul. Kadang-kadang saya berpikir, sebenarnya siapa yang manusia, siapa yang hewan ya?

Namun, suatu ketika, saya mulai sadar. Hati saya mulai tergerak. Otak saya mulai berpikir. Apa hak saya mengambil nyawa para semut itu? Bukankah sebagai makhluk hidup mereka memiliki hak yang sama untuk hidup dengan tenteram. Bukankah hanya Tuhan yang berhak mengambil nyawa makhluk-Nya?

Saya mulai berpikir, bagaimana kalau kelak di akhirat semut-semut itu menuntut balas atas perbuatan saya terhadap mereka di dunia? Pada saat Tuhan mau memasukkan saya ke surga, kemudian semut-semut yang mati di tangan saya itu berteriak ”SAYA TIDAK TERIMA TUHAN...AJENG ENGKAU MASUKKAN SURGA? SEBAB DIA TELAH MEMBUNUH SEBGIAN BESAR BANGSA KAMI, SEHINGGA KAMI TIDAK BISA MELANJUTKAN KEHIDUPAN KAMI DI DUNIA. KETURUNAN KAMI PUN TELAH PUNAH DI DUNIA KARENA DIA!!” dengan bahasa semut yang sudah pasti dimengerti oleh Tuhan, karena Tuhan Maha Mengetahui.

Akhirnya karena demonstrasi besar-besaran yang dilakukan oleh para semut yang mati di tangan saya tersebut Tuhan mengabulkan tuntutan mereka dan menjebloskan saya ke neraka. Jelas saya tidak bisa naik banding, karena saya tidak punya alibi apapun. Saya memang telah melakukan pembunuhan terhadap kawanan semut tersebut. Dan masuklah saya ke neraka.

Glotak!! Saya sadar dari lamunan tentang masa depan. Takut kalau kelak saya tidak dapat masuk surga karena tuntutan para semut yang mati di tangan saya, saya pun akhirnya memutuskan bahwa mulai saat ini saya tidak akan membunuh semut dengan cara yang kejam dan tanpa perasaan. Yah, paling saya akan berbicara baik-baik dengan para semut yang menempel di pakaian atau kamar saya untuk meninggalkan tempat. Semoga mereka mengerti bahasa manusia. Atau saya harus berbicara dengan bahasa semut?

Selamatkan kehidupan semut! Hidup semut!!

Wednesday, May 30, 2007

hai....

hai...
nama saya ajeng
ini adalah pertama kalinya saya membuat sebuah blog.
hehehe... telat banget yah..
iya sih sebenarnya sudah pengin dari dulu, tapi ditunda2 terus, takut..nanti nggak bisa menjaga konsistensi menulis di blog..hehehe
ge er banget yak, siapa juga yang mau baca blog-saya hehe..

yah kali-kali aja ada..

btw, hari ini saya mengalami kejadian aneh

tadi pas mau pulang dari kampus, di parkiran FISIP Unair, kampus tempat saya menimba ilmu,saya melihat dua orang cewe, minta di-photo-in sama pak tukanmg parkir kampus saya.
sebenarnya sih bukan hal yang aneh, tapi kenapa harus pak parkir yak?

setelah puas melihat mereka bergaya di depan pak parkir,saya pun pulang.

jalan kaki lewat depan parkiran sastra

trus belok kanan, lewat depan parkiran D3 FE

nah di depan parkiran mobil FE itu, lagi-lagi saya melihat seorang cewe, yang lagi pose di atas mobilnya. di depannya ada seorang laki-laki memakai baju seragam PARKIR membawa handphone, dan... memotret cewe itu.
jadi ternyata cewe itu tadi berpose untuk diambil gambarnya oleh pak tukang parkir FE..

saya jadi merasa bahwa sebuah keanehan telah terjadi.

dua kali dalam waktu yang hampir bersamaan melihat cewe, minta diphoto-in oleh tukang parkir..

wah wah.. mungkin ini adalah sebuah pertanda..

profesi tukang parkir ternyata menjadi idola para cewek saat ini..

atau jangan-jangan... ini adalah sebuah pertanda dari Tuhan, bahwa jodoh saya nanti adalah seorang tukang parkir...

hiyaa..

tapi gak papa dink, asal tukang parkirnya seganteng ashton kutcher dan sekaya donald thrump..