Entah kenapa tiba-tiba saya tergerak untuk menulis tentang ini.
Ketahuilah kawan, laki-laki itu, tanpa bermaksud menggenalisir, sebelum mereka terikat oleh ikatan yang sah, tidak akan pernah setia. Kenapa? Karena mereka sedang memilah dan memilih, mana yang nantinya akan baik untuk menjadi pendamping.
Saya adalah orang beruntung yang dahulu kala sering menjadi tempat curhat teman-teman lelaki. Katanya sudah terikat janji dengan si ana yang secara fisik cantik, tapi di sisi lain masi minta dikenalin sama si anu yang secara fisik lebih cantik. Maka, sedikit banyak saya bisa menganalisis tindak tanduk para kaum adam ini.
Biasanya laki-laki yang seperti saya sebutkan di atas punya banyak kelebihan. Banyak dari mereka yang sebenarnya tidak ganteng, bahkan sama sekali tidak ganteng. Tapi mereka cukup pandai berkomunikasi. Mereka sangaaaat nyambung diajak ngomong apapun. Apapun!
Nah biasanya pula, para perempuan lebih suka didekati oleh para lelaki yang enak diajak ngobrol apapun, daripada ganteng tapi agak telmi. Maka kloplah keduanya saling bertemu.
Maka, bagi kawan-kawanku, perempuan-perempuan nan mulia, menikahlah! Menikahlah dengan lelaki yang mendekatimu bukan HANYA karena kalian tampil menarik. Bukan pula HANYA karena saling cocok dalam obrolan. Atau malah HANYA karena memiliki weton yang membawa keberuntungan!
Tapi diantara para lelaki yang mendekatimu, pilihlah mereka yang meminangmu karena ingin menyelamatkanmu dan mengangkat martabatnya. Yang memilihmu karena ingin menyelamatkan agamamu dan agamanya. Yang mengajakmu bersama berjuang melahirkan generasi-generasi tangguh.
Dan, bagi kalian para lelaki yang sedang mencari cinta. Berlomba-lombalah untuk mematutkan diri mendapatkan para bidadari yang bersiap untuk kau ajak berperang menuju syahid dalam perahu rumah tangga!
Showing posts with label Perempuan. Show all posts
Showing posts with label Perempuan. Show all posts
Sunday, December 18, 2011
Monday, March 16, 2009
Ukuran memang Penting?

I was an I-don’t-care-what-size-are-you person. Yup, saya tidak pernah peduli seberapa besar badan saya. Bahkan saya dengan bangga menunjukkan pola makan yang naudzubillah pada dunia. Santai saja, memang begini adanya. Hingga…
Sabtu kemarin, seorang teman SMA sekaligus kos jaman kuliah dulu minta diantar belanja di Malioboro. Sepulang dari studi banding di Magelang bersama rombongan tim PNPM Magetan ia meminta saya memilihkan batik untuk kerja. Itu niat awalnya.
Niat hunting batik yang elegan di Mirota Batik luntur ketika kami melihat tulisan discount terpampang di Matahari Malioboro Mall. Meri yang sedang mengantongi banyak duit pesangon dari pemerintah langung saja menyerbu rak-rak bertumpuk pakaian wanita. Satu celana bahan dan kemeja kerja lengan pendek sudah berada dalam tas belanja. Satu demi satu rak pakaian kami singkap demi mendapatkan baju terindah dengan harga termurah. Sesuai prinsip ekonomi. Lalu sampailah kaki kami pada keranjang celana jeans merk Dual yang diobral dengan harga 69 hingga 79 ribu.
Dua celana jeans model pinsil warna biru belel ukuran M saya jinjing menuju ruang ganti. Sementara Meri membawa dua celana hitam dengan model dan ukuran berbeda. Satu model pinsil dengan ukuran S, lainnya model cutbray ukuran M.
“Satu kamar aja, Jeng. Biar bisa gantian nyobanya!” pinta Meri
Maka di ruang itulah saya baru menyadari, ternyata tubuh saya telah menggelembung sedemikian rupa. Meri dulunya adalah cewe oversize. Semua pakaian dia masuk di badan saya, tapi tidak sebaliknya. Tapi kali ini celana cutbray hitam ukuran M yang melekat pas di badan Meri, tak muat untuk saya. Ini mengindikasikan bahwa dunia telah berbalik.
“Wah, Jeng, ga nyangka sekarang kok aku bisa pake S ya?” entah menghina atau heran dengan tubuhnya sendiri, Meri berkata.
Tiga jam setelahnya, saya pulang dengan pertanyaan : emang badanku segitu gendutnya ya?
Sejak tinggal di Jogja angka timbangan saya memang naik. Sekitar 5 kilogram dalam kurun waktu 10 bulan. Sejauh ini saya tak pernah merasa risi. Bahkan mungkin saja sebenarnya pertambahan berat badan itu pertanda hati kita selalu bahagia. Saya juga cuek saja ketika orang-orang mulai berkomentar.
Si Kurus awalnya. Orang ini memang perhatian betul.
“Ya ampun, badan kok kayak gajah,” katanya dengan sangat sangat sangat dan sangat hiperbolis.
“Ah itu kan gara-gara kamu kurus aja, trus iri, makanya ngatain orang lain gendut,” saya menyangkal.
Lalu teman-teman kos saya.
“Mbak Ajeng gendutan ya. Tuh perutnya mulai buncit,”.
“Biarin lah, ini kan one pek,”.
Kemudian teman-teman kos saya di Surabaya dulu.
“Mbak Ajeng… pipinya tambah tembem aja,”.
“Ya kan tambah imut,” saya masih saja menyanggah
Ibu saya tak mau ketinggalan ikut berkomentar.
“Jeng, badannya kurusin dikit lah. Tar kalo mau nikah badanya gemuk gitu kan jelek,”.
“Loh justru kalo badannya agak gendut malah bagus buk, baju pengantinnya bisa pas badan, gak kelonggaran,” saya tetap mempertahankan diri.
Walaupun terkadang komentar-komentar mereka sedikit mengusik, tapi saya masih berpikir bahwa bagaimanapun my body is wonderland. Rasanya ingin protes juga sih. Emang kenapa kalo pipi saya chubby? Emang salah ya kalau lingkar perut semakin gede? Trus, kalau mau nikah, emang harus kurus dulu?
Meski terpukul juga sih sebenarnya, menyadari fakta bahwa ukuran M tak lagi muat, sungguh menyakitkan. Tapi ini kan badan saya! Diapa-apain kalau dari sananya dikasih pipi tembem ya terima aja. Dimana-mana juga, kalau berat badan naik lingkar perut ya bertambah. Hukum alam namanya. Diet? Tar ah kalau udah hampir mau nikah aja. Memang ukuran penting banget ya?
Tuesday, January 6, 2009
Bantal
Aku lelah. Mataku berat. Kepalaku pening luar biasa. Aku benar-benar mengantuk.
Lalu ku buka pintu kamar dengan semangat. Ada yang aneh saat kupandangi kasur bergambar Winnie the Pooh itu. Bantalku tak ada. Aku tak berdaya.
Kemanakah bantalku? Satu-satunya barang berharga yang bertengger di atas kasurku. Tak biasa-biasanya ia menghilang. Atau adakah yang berani mengambilnya dariku? Ah, kurasa tidak.
Tapi kemana?
Bantalku menghilang.
Aku tak bisa bersandar.
Malam ini.
***
AKU : Sayang, bolehkah aku bersandar sekaliiiii saja. Tanpa aku meminta?
KAU : Cinta, belum cukupkah belaian, pelukan, dan kemanjaan yang kuberi padamu?
AKU : Sayang, aku hanya ingin bersandar. Sekaliiiii saja. Tanpa harus meminta.
KAU : Cinta, bulan pun akan aku ambilkan jika kau meminta.
AKU : Sayang. Aku tak ingin bulan. Aku hanya ingin bersandar.
KAU : Cinta, apapun yang kau minta…
AKU : Sayang. Kali ini aku tak ingin meminta. Sekaliii saja.
KAU : Lalu, cinta?
AKU : Aku hanya ingin bersandar. Tanpa meminta.
KAU : …… ….
AKU : …….. …
***
Itulah mengapa Venus tak pernah berjalan berdampingan dengan Mars. Karena Mars tak pernah mengerti apa yang diinginkan Venus. Sementara Venus tak pernah tahu bagaimana cara menyampaikan maksudnya pada Mars. Tanpa meminta. Gerak mereka terlalu berbeda untuk diisyaratkan dalam satu bahasa yang sama. Namun mereka tetap indah berputar sesuai orbitnya.
(Kamar Kos, Selasa 6 Januari 2009, 23.32 WIB. Gara-gara tak bisa tidur, dan terinspirasi sebuah sms yang menggunakan kata “belum cukupkah” dari nomor 0818040xxxxx)
Lalu ku buka pintu kamar dengan semangat. Ada yang aneh saat kupandangi kasur bergambar Winnie the Pooh itu. Bantalku tak ada. Aku tak berdaya.
Kemanakah bantalku? Satu-satunya barang berharga yang bertengger di atas kasurku. Tak biasa-biasanya ia menghilang. Atau adakah yang berani mengambilnya dariku? Ah, kurasa tidak.
Tapi kemana?
Bantalku menghilang.
Aku tak bisa bersandar.
Malam ini.
***
AKU : Sayang, bolehkah aku bersandar sekaliiiii saja. Tanpa aku meminta?
KAU : Cinta, belum cukupkah belaian, pelukan, dan kemanjaan yang kuberi padamu?
AKU : Sayang, aku hanya ingin bersandar. Sekaliiiii saja. Tanpa harus meminta.
KAU : Cinta, bulan pun akan aku ambilkan jika kau meminta.
AKU : Sayang. Aku tak ingin bulan. Aku hanya ingin bersandar.
KAU : Cinta, apapun yang kau minta…
AKU : Sayang. Kali ini aku tak ingin meminta. Sekaliii saja.
KAU : Lalu, cinta?
AKU : Aku hanya ingin bersandar. Tanpa meminta.
KAU : …… ….
AKU : …….. …
***
Itulah mengapa Venus tak pernah berjalan berdampingan dengan Mars. Karena Mars tak pernah mengerti apa yang diinginkan Venus. Sementara Venus tak pernah tahu bagaimana cara menyampaikan maksudnya pada Mars. Tanpa meminta. Gerak mereka terlalu berbeda untuk diisyaratkan dalam satu bahasa yang sama. Namun mereka tetap indah berputar sesuai orbitnya.
(Kamar Kos, Selasa 6 Januari 2009, 23.32 WIB. Gara-gara tak bisa tidur, dan terinspirasi sebuah sms yang menggunakan kata “belum cukupkah” dari nomor 0818040xxxxx)
Monday, September 24, 2007
Perempuan Tak Lagi Harus Menunggu

Membina sebuah rumah tangga yang harmonis bersama pasangan yang dicintai merupakan impian setiap perempuan. Bagi sebagian perempuan, mewujudkan impian tersebut merupakan hal yang mudah. Namun bagi perempuan lain, menaklukan hati laki-laki pujaan mungkin menjadi sebuah persoalan besar.
“Banyak alasan yang menyebabkan pria pelit mengeluarkan kata-kata pinangan,”. Demikian dituturkan Ratih Andjayani Ibrahim dalam talkshow bertema ‘Sampai Kapan harusMenunggu’ yang diselenggarakan Arisan Senin Citra (ASC) Senin kemarin (24/9).
Alasan pertama adalah karena sebagian laki-laki merasa usia mereka masih terlalu muda untuk melakukan pernikahan. Alasan tersebut mendasari penolakan mereka untuk segera menikah. “Padahal usia laki-laki boleh menikah adalah 18 tahun sedangkan perempuan 16 tahun,” jelas Ratih. Namun, pada usia ini laki-laki dan perempuan yang mau menikah harus mengantongi ijin dari orang tua.
Alasan kedua yang menghambat pernikahan adalah sebab seringkali laki-laki merasa belum cukup mapan baik dari segi emosional, sosial, maupun secara finansial. Selain itu, laki-laki juga masih ingin mengaktualisasikan diri sampai pada puncak kehidupannya Hal itu biasanya disebabkan karena masih banyak hal yang ingin diraih oleh para laki-laki tersebut. “Si laki-laki merasa ada hal lain yang menjadi prioritas, sehingga pernikahan dirasa menjadi faktor penghambat mereka,” tambahnya.
Perasaan nyaman terhadap kehidupan membujang juga menjadi alasan lain mengapa laki-laki sulit mengucapkan kata-kata pinangan. “Sebagian pria merasa nyaman dengan kehidupannya. Punya pekerjaan bagus dan punya pacar. Lalu mengapa harus ke jenjang lebih lanjut?” kata Ratih.
Sedangkan yang terakhir adalah sebab sebagian laki-laki merasa ragu membayangkan segala konsekuensi pernikahan.
Banyaknya faktor pengahambat seorang laki-laki untuk menikahi perempuan tidak harus disikapi secara pasif oleh perempuan. Menurut Ratih, sekarang sudah saatnya perempuan untuk berani mengambil sikap untuk masa depannya sendiri. Berkomunikasi secara intensif tentang hubungan merupakan salah satu solusinya. Selain itu, menurut Ratih, satu hal yang harus dilakukan perempuan diantaranya adalah dengan berani menentukan batas waktu toleransi bagi hubungan pasangan. “Supaya hubungan tidak mandeg,” terang Ratih.
Sayangnya, anggapan masyarakat terhadap perempuan yang berani terbuka kepada pasangan mengenai hubungan masih dianggap tabu. Masyarakat masih menganggap perempuan submissif. Norma yang berlaku dalam masyarakat mengharuskan perempuan untuk menunggu. “Padahal perempuan punya kesetaraan untuk menentukan masa depannya sendiri,” ujarnya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
