Wednesday, January 30, 2008

Sendiri

Tak seorang pun di dunia ini mengerti
Kalimat yang kuucap
Dengan bahasaku
Bahkan saat aku mencoba menggunakan bahasa mereka
Tetap tak pernah mereka mengerti
Dan aku hanya bisa menangis
Tak tahu dengan cara apalagi aku akan membuat mereka mengerti kalimatku

Saat aku tak lagi bisa mengendalikan dunia
Saat aku melihat bolaku terlepas dari genggaman
Saat aku tak mampu menuliskan sebuah kisah mengesankan pada skenario hidupku
Dengan penaku sendiri
Saat aku tak kuasa menentukan jalan mana yang harus kulalui
Untuk sampai ke taman firdaus yang dibangun untukku
Bahkan membayangkannya pun aku tak bisa
Sementara aku hanya bisa menangis
Atas segala ketidakberdayaanku

Aku memang manusia sombong
Yang tak mau mengaku kalah dalam pertarungan ini
Yang tidak sabar menunggu waktu lebih lama untuk membuat naskah yang jauh lebih menarik dengan segala lika-likunya
Yang terlampau cepat merasa lelah berjalan di lorong panjang, gelap, dan berliku menuju istana
Dan hanya mau melewati jalan pintas lebar beraspal yang tak mungkin ditemui
Yang merasa bisa menghalau topan dalam kesendirian
Sementara tubuhku tak lebih besar dari setitik debu
Yang tak rela melihat manusia lain memegang batangan emas
Sedangkan aku hanya mengantongi bijih besi
Yang hanya ingin dimengerti dan didengar
Sementara tak pernah mau mengerti dan mendengar kata-kata mereka
Yang selalu merasa miskin diantara harta yang menggunung
Aku hanya bisa menangis

Sedangkan aku tak pernah menyadari
Inilah cara Tuhan mencintaiku
Inilah cara mereka menunjukkan kasih sayangnya padaku
Inilah cara dunia mendewasakanku
Bahwa kegelapan akan menghapus rasa takutku
Bahwa jalan berbatu akan mengajariku untuk berlari tanpa terjatuh
Bahwa angin akan menunjukkan cara menguatkan tubuh rapuhku
Bahwa hujan akan menghapus air mataku
Dan aku benar-benar menangis

1 comment:

  1. askum, jeng di Pare mpe kapan ni?ngapain aja. wah imam subkhi banyak crita-crita. jangan lupa SKI nya ya he..hee

    ReplyDelete